Bella Swan yang diperankan oleh Kristen Stewart mempunyai ciri khas yang berbeda dengan gadis seusianya. Tak pernah bergaul dengan orang banyak dan tidak peduli dengan hal yang berbau fashion dan trend, di SMA Arizona ( High School Arizona ). Ketika ibunya menikahi lagi dan dia pilih untuk tinggal bersama ayahnya di kota kecil Washington yang sering kali hujan, dia tidak berharap banyak perubahan.Akan tetapi hal berganti ketika dia bertemu seorang pria misterius dan mempesona hatinya yakni Edward Cullen yang diperankan oleh Robert Pattinson.
Karena Edward berbeda dengan pria lain yang pernah dia jumpai dan tidak ada yang pernah sama, mungkin Edward adalah seorang pria yang cerdas, pintar dan lucu. Dan sorot matanya yang tajam bisa melihat sesuatu hal yang berbeda didalam jiwa Bella …
Tak lama kemudian, mereka dipertemukan dan Fallin In Love dengan percintaan yang menggairahkan dan jenis percintaan gaya kuno seperti Romeo and Juliet mungkin Edward benar – benar berbeda dengan pria lainya. Dia bisa berlari lebih cepat dari macan, menghentikan mobil yang bergerak dengan tangan kosong ( adegan pertama yang berkesan buat cewek2 nih … hehehe ) Dan dia abadi. Lihat saja, dengan kelahiran sejak tahun 1918 tidak bertambah tua sedikitpun. Dan tentu saja, dia adalah seorang Vampir. Tapi kali ini, mitos vampir yang di publikasikan di film lainnya dengan taring tajam, tapi disini berbeda. Dia tidak mempunyai taring … tapi hanya di film ini loh … dan tidak meminum darah manusia yang mana salah satu gaya hidup keluarga vampir yang unik disaat itu. Bisa diartikan mereka vegetarian untuk istilah kita ( tidak memakan daging ). Mereka hanya membunuh hewan dan meminum darahnya.
Bagi Edward kedatangan Bella sudah dia tunggu sejak 90 tahun yang lalu sebagai pasangan sejatinya ( soulmate ). Tetapi ketika kedekatan relationship antara mereka berdua, Edward merasa takut apabila insting hewannya lepas kendali yang diakibatkan bau darah si Bella dan dia berusaha mengendalikan diri. Dan diluar dugaan ada jenis vampir lain yang menghisap darah manusia datang ke kota dan ada mengira ada makanan kecil yang dibawa oleh Edward … ( soalnya pas nonton dengernya Bringing a snack ) yang akhirnya Bella di culik oleh vampir itu, Apakah Bella akan selamat dan ditolong oleh Edward ? Dunno deh … Di sinilah inti kekuatan cerita romance nya. Dengan gaya cerita Romeo dan Juliet hanya saja perbedaan antara Vampir dan manusia, cinta yang terlarang dan maut.
Di sebuah desa hiduplah seorang anak perempuan yang lugu. Sheila namanya. Ia senang sekali bermain di tepi hutan. Ibunya selalu mengingatkannya agar tak terlalu jauh masuk ke hutan. Penduduk desa itu percaya, orang yang terlalu jauh masuk ke hutan, tak akan pernah kembali. Bagian dalam hutan itu diselubungi kabut tebal. Tak seorang pun dapat menemukan jalan pulang jika sudah tersesat. Sheila selalu mengingat pesan ibunya. Namun ia juga penasaran ingin mengetahui daerah berkabut itu. Setiap kali pergi bermain, ibu Sheila selalu membekalinya dengan sekantong kue, permen, coklat, dan sebotol jus buah. Sheila sering datang ke tempat perbatasan kabut di hutan. Ia duduk di bawah pohon dan menikmati bekalnya di sana. Sheila ingin sekali melangkahkan kakinya ke dalam daerah berkabut itu. Namun ia takut. Suatu kali, seperti biasa Sheila datang ke daerah perbatasan kabut. Seperti biasa ia duduk menikmati bekalnya. Tiba-tiba Sheila merasa ada beberapa pasang mata memperhatikannya. Ia mengarahkan pandangan ke sekeliling untuk mencari tahu. Namun Sheila tak menemukan siapa-siapa. “Hei! Siapa pun itu, keluarlah! Jika kalian mau, kalian dapat makan kue bersamaku,” teriak Sheila penasaran. Mendengar tawaran Sheila, beberapa makhluk memberanikan diri muncul di depan Sheila. Tampak tiga peri di hadapan Sheila. Tubuh mereka hanya separuh tinggi badan Sheila. Di punggungnya ada sayap. Telinga mereka berujung lancip. Dengan takut-takut mereka menghampiri Sheila. Anak kecil pemberani itu tanpa ragu-ragu menyodorkan bekalnya untuk dimakan bersama-sama. Peri-peri itu bernama Pio, Plea, dan Plop. Ketiga peri itu kakak beradik. Sejak saat itu Sheila dan ketiga kawan barunya sering makan bekal bersama-sama. Kadang mereka saling bertukar bekal. Suatu hari Sheila bertanya kepada ketiga temannya, “Pio, Plea, Plop. Mengapa ada daerah berkabut di hutan ini? Apa isinya? Dan mengapa tak ada yang pernah kembali? Kalian tinggal di hutan sebelah mana?” tanya Sheila penuh ingin tahu. Mendengar pertanyaan Sheila ketiga peri itu saling bertukar pandang. Mereka tahu jawabannya namun ragu untuk memberi tahu Sheila. Setelah berpikir sejenak, akhirnya mereka memberitahu rahasia hutan berkabut yang hanya diketahui para peri. “Para peri tinggal di balik hutan berkabut. Termasuk kami. Kabut itu adalah pelindung agar tak seorang pun dapat masuk ke wilayah kami tanpa izin. Kami tiga bersaudara adalah peri penjaga daerah berkabut. Jika kabut menipis, kami akan meniupkannya lagi banyak-banyak. Jika ada tamu yang tak diundang masuk ke wilayah kami, kami segera membuatnya tersesat,” jelas Pio, Plea, Plop. Sheila terkagum-kagum mendengarnya. “Bisakah aku datang ke negeri kalian suatu waktu?” tanya Sheila berharap. Ketiga peri itu berembuk sejenak. “Baiklah. Kami akan mengusahakannya,” kata mereka. Tak lama kemudian Sheila diajak Pio, Plea dan Plop ke negeri mereka. Hari itu Sheila membawa kue, coklat, dan permen banyak-banyak. Sebelumnya, Sheila didandani seperti peri oleh ketiga temannya. Itu supaya mereka bisa mengelabui para peri lain. Sebenarnya manusia dilarang masuk ke wilayah peri. Ketiga teman Sheila ini juga memberi kacamata khusus pada Sheila. Dengan kacamata itu Sheila dapat melihat dengan jelas. Daerah berkabut penuh dengan berbagai tumbuhan penyesat. Berbagai jalan yang berbeda nampak sama. Jika tidak hati-hati maka akan tersesat dan berputar-putar di tempat yang sama. Dengan bimbingan Pio, Plea, dan Plop akhirnya mereka semua sampai ke negeri peri. Di sana rumah tampak mungil. Bentuknya pun aneh-aneh. Ada rumah berbentuk jamur, berbentuk sepatu, bahkan ada yang berbentuk teko. Pakaian mereka seperti kostum untuk karnaval. Kegiatan para peri pun bermacam-macam. Ada yang mengumpulkan madu, bernyanyi, membuat baju dari kelopak bunga… Semua tampak riang gembira. Sheila sangat senang. Ia diperkenalkan kepada anak peri lainnya. Mereka sangat terkejut mengetahui Sheila adalah manusia. Namun mereka senang dapat bertemu dan berjanji tak akan memberi tahu ratu peri. Rupanya mereka pun ingin tahu tentang manusia. Mereka bermain gembira. Sheila dan para anak peri berkejar-kejaran, bernyanyi, bercerita dan tertawa keras-keras. Mereka juga saling bertukar makanan. Pokoknya hari itu menyenangkan sekali. Tiba-tiba ratu peri datang. “Siapa itu?” tanyanya penuh selidik. “Ratu, dia adalah teman hamba dari hutan utara,” jawab Plop takut. Ia terpaksa berbohong agar Sheila tak ketahuan. Ratu peri memperhatikan Sheila dari ujung rambut sampai ujung kaki. Setelah itu ia pergi. Sheila bermain lagi dengan lincah. Namun sayang ia terpeleset. Sheila jatuh terjerembab. Ketika itu cuping telinga palsunya copot. Ratu peri melihat hal itu. Ia amat marah. “Manusia! Bagaimana ia bisa sampai kemari? Siapa yang membawanya?” teriaknya mengelegar. Pio, Plea, dan Plop maju ke depan dengan gemetar. “Kami, Ratu,” jawab mereka gugup. “Ini pelanggaran. Jika ada manusia yang tahu tempat ini, maka tempat ini tidak aman lagi. Kalian harus dihukum berat,” teriak ratu peri marah. Sheila yang saat itu juga ketakutan memberikan diri maju ke depan. “Mereka tidak bersalah, Ratu. Akulah yang memaksa mereka untuk membawaku kemari.” “Kalau begitu, kau harus dihukum menggantikan mereka!” gelegar ratu peri. Sheila dimasukkan ke dalam bak air tertutup. Ia akan direbus setengah jam. Namun ketika api sudah dinyalakan ia tidak merasa panas sedikit pun. “Keluarlah! Kau lulus ujian, ” kata ratu peri. Ternyata kebaikan hati Sheila membuat ia lolos dari hukuman. Ia diperbolehkan pulang dan teman perinya bebas hukuman. Ratu peri membuat Sheila mengantuk dan tertidur. Ia menghapus ingatan Sheila tentang negeri peri. Namun ia masih menyisakannya sedikit agar Sheila dapat mengingatnya di dalam mimpi. Ketika terbangun, Sheila berada di kasur kesayangannya.
JAKARTA--MICOM: Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) Jumhur Hidayat menyatakan terbebasnya tiga TKI dari hukuman mati di Arab Saudi menunjukkan perjuangan Satgas Penanganan WNI/TKI berhasil menuai hasil.
Dalam pernyataannya Selasa (27/12) Jumhur menyebutkan tiga TKI yang terbebas dari hukuman pancung adalah Bayanah binti Banhawi, 29, Jamilah binti Abidin Rofi'i alias Juariyah binti Idin
Ropi'i, dan Neneng Sunengsih binti Mamih, 34. Mereka dibebaskan dengan pemaafan keluarga korban dan tidak terbuktinya tuduhan pembunuhan yang didakwakan.
Ketiganya akan dipulangkan hari ini oleh Satgas Penanganan WNI/TKI Terancam Hukuman Mati Di Luar Negeri pimpinan mantan Menteri Agama Maftuh Basyuni bekerja sama dengan KBRI Riyadh dan KJRI Jeddah.
Saat ini pemerintah juga sedang berusaha membantu Tuti Tursilawati, TKI asal Majalengka yang terancam hukuman pancung di Arab Saudi. Upaya itu sedang dilakukan pemerintah dengan mengirim mantan presiden BJ Habibie untuk melakukan pembicaraan dengan pemerintah Arab Saudi. (Ant/OL-04)
JAKARTA (Pos Kota) – Perjuangan Satuan Tugas (Satgas) Penanganan WNI/TKI Terancam Hukuman Mati di Luar Negeri telah menuai hasil nyata. Tiga Tenaga Kerja Indonesia di Arab Saudi yang menghadapi ancaman hukuman mati (qishash) masing-masing Bayanah Binti Banhawi ,29, Jamilah Binti Abidin Rofi’i alias Juariyah Binti Idin Ropi’i, dan Neneng Sunengsih Binti Mamih ,34, kini dibebaskan karena dimaafkan keluarga korban di samping tuduhan pembunuhannya yang tidak terbukti.
Ketiganya dipulangkan hari Selasa, (27/12) oleh Satgas TKI bekerjasama KBRI Riyadh, KJRI Jeddah, serta Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI).
Demikian disampaikan Kepala BNP2TKI Moh Jumhur Hidayat di Jakarta, Selasa (27/12) melalui informasi Deputi Penempatan BNP2TKI Lisna Yoeliani Poeloengan yang berada di Riyadh, Arab Saudi.
Selain Lisna, Ketua Satgas TKI, Maftuh Basyuni serta Juru Bicara Satgas TKI, Humphrey R Djemat juga sedang bertugas di Riyadh untuk menangani WNI/TKI terancam hukuman mati, termasuk mendampingi misi mantan Presiden RI Bacharuddin Jusuf Habibie di Arab Saudi guna menyelamatkan nasib Tuti Tursilawati (27), TKI asal Majalengka, Jawa Barat yang tengah “menyongsong” pelaksanaan hukuman mati.
Jumhur mengatakan, Bayanah Binti Banhawi, TKI kelahiran 23 Agustus 1982 beralamat Desa Ranca Labuh, Kecamatan Kemiri, Kabupaten Tangerang, Banten adalah yang kali pertama dipulangkan dengan ditemani Ketua Satgas TKI.
Bayanah akan terbang menggunakan maskapai Saudi Airlines No SV 822 dari King Khalid International Airport, Riyadh, Selasa (27/12) pukul 22.00 waktu setempat dan tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten pada Rabu, 28/12 pukul 11.00 WIB. Setibanya di Soekarno-Hatta, Bayanah akan diserahterimakan dari Ketua Satgas TKI kepada Kepala BNP2TKI Moh Jumhur Hidayat.
“Petugas BNP2TKI sejak Senin malam (26/12) telah menghubungi keluarga Bayanah di Tangerang untuk dapat menjemput bersama-sama, selanjutnya Bayanah akan diantar hingga ke tempat asalnya,” jelas Jumhur.
Pemulangan kedua, lanjutnya, dilakukan pada 28/12 dari Bandara King Abdul Azis International, Jeddah terhadap Jamilah Binti Abidin Rofi’i, TKI asal Cianjur, Jawa Barat. Keberangkatan Jamilah akan didampingi pejabat KJRI Jeddah hingga di tanah air.
Sedangkan yang ketiga untuk pemulangan Neneng Sunengsih Binti Mamih. TKI yang lahir pada 6 Juni 1977 asal Desa Bojong Kalong, Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, itu direncanakan baru sekitar seminggu atau dua minggu kemudian dapat berangkat dari Ryadh, karena menunggu penyelesaian “exit permit” (izin ke luar) yang melihatkan pihak majikan tempatnya bekerja.
Jumhur menjelaskan, Bayanah yang berbekal paspor AA 988735 diberangkatkan ke Riyadh pada 29 Januari 2006 oleh PT Amanah Putera Pertama, Jakarta dan dipekerjakan sebagai TKI Penata Laksana Rumah Tangga di keluarga majikan Abdullah Umar Al Munthairi. Setelah masa kerja dua bulan, Bayanah terlibat kasus sangkaan pembunuhan anak majikannya yang berusia 4 tahun dan membuat dirinya ditahan di penjara khusus wanita Al Malaaz, Riyadh.
“Bayanah dituduh mematahkan tangan anak majikan yang mengalami cacat otak dan secara tidak sengaja anak tersebut tersiram air panas dari kran“washtafel” pada saat Bayanah mengganti pampers, sehingga mengakibatkan kematian sang anak setelah dirawat selama 12 hari,” kata Jumhur.
Namun demikian, Bayanah mendapat pemaafan atas ketidaksengajaannya itu. Ia lalu dikenai denda berupa pembayaran diyat sebesar 55.000 Real Saudi dan telah dibayar pihak KBRI.
Setelah itu, pada 26 Oktober 2011, Ketua Satgas TKI bertemu Gubernur Riyadh untuk menanyakan pembebasan Bayanah yang tidak terbukti membunuh korban. Pada 30 Oktober 2011, kantor Gubernur Riyadh mengirim telegram ke penjara Al Malaaz untuk membebaskan Bayanah.
Untuk kasus Jamilah Binti Abidin Rofi’i, tuduhannya membunuh majikannya, Salim Al Ruqi (80) yang berkewarganegaraan Saudi. Akan tetapi tuduhan itu tidak kuat hingga akhirnya mendapat pemaafan keluarga korban yang diwakili anaknya, Ali Seha Al Ruqi di hadapan Raja Abdullah tanpa kewajiban membayar diyat.
Neneng Sunengsih Binti Mamih, pemegang paspor AP 482272 ditempatkan oleh PT Jasmindo Olah Bakat untuk bekerja di Riyadh pada keluarga Ashraf Roja Al Rajan.
Neneng menghadapi tuduhan membunuh bayi majikannya berusia 4 bulan setelah meminumkan susu, yang membuatnya meringkuk di Penjara Al Jouf, Riyadh. Karena kasusnya juga tidak terbukti secara hukum, Neneng dibebaskan dengan tidak diharuskaan memenuhi diyat. (Tri/b)
Sumber : http://www.poskota.co.id/berita-terkini/2011/12/27/tiga-tki-lolos-dari-hukuman-mati-di-arab-saudi
Komentar :
Koran media indonesia : isi topik nya yang di bicarakan sangat jelas tetapi terlalu singkat. bahasa yang di gunakan cukup baik .
Koran poskota: isi topiknya sangat banyak . bahasa yang di gunakan cukup tidak baik.
Contoh :
·“Petugas BNP2TKI sejak Senin malam (26/12) telah menghubungi keluarga Bayanah di Tangerang untuk dapat menjemput bersama-sama, selanjutnya Bayanah akan diantar hingga ke tempat asalnya,” jelas Jumhur.
oSebaiknya : diantar hinggake tempat tujuanya .
·Setibanya di Soekarno-Hatta, Bayanah akan diserahterimakan dari Ketua Satgas TKI kepada Kepala BNP2TKI Moh Jumhur Hidayat
oSebaiknya : diserahkan
Sebaiknya untuk koran keduanya isi topik yang di bicarakan lebih baik lagi pengejaan kata nya . agar bisa lebih di pahami pembacanya .